Selasa, 29 Januari 2013


BENARKAH RASULULLAH LAHIR PADA TANGGAL 12 RABI’UL AWAL?

Saat ini saya berada di bulan Rabi’ul Awwal 1434 H. Bulan ini begitu diagungkan oleh ummat islam, karena dibulan inilah Penutup Para Nabi –shalallahu ‘alaihi wa sallam- dilahirkan.

Para ulama Ahlusunnah sepakat bahwa Rasulullah dilahirkan pada hari senin dibulan ini, sebagaimana dalam hadits:

عن أبي قتادة الانصاري رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن صيام يوم الاثنين فقال: (( ذاك يوم ولدت فيه ويوم بعثت فيه أو أنزل علي فيه )). رواه مسلم.

Dari Abu Qotadah Al Anshariy –radliallahu’anhu- bahwasannya rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- ditanya tentang puasa pada hari senin? Maka beliau bersabda: (( itu adalah hari aku di lahirkan dan hari aku diutus, atau di turunkannya wahyu kepadaku )). [diriwayatkan oleh Muslim].

Al Imam Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya beliau –shalallahu’alaihi wa sallam- lahir di jantung kota Makkah dan konon lahirnya di tahun gajah” [Zaadul Ma’ad]. Betepatan pada Tahun 571 Masehi, ada yang mengatakan 570 Masehi.

Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang ketetapan tanggalnya..?!


Pendapat pertama mengatakan: beliau lahir pada tanggal 2 Rabi’ul Awal, ini adalah pendapat Ibnu Abdil Barr, berdasarkan atas riwayat Al Waqidiy dari Abu Ma’syar Najih bin Abdurrahman Al Madini. [ lihat Kitab: Al Isti’aab (1/59)].

Pendapat kedua mengatakan: beliau lahir pada tanggal 8 Rabi’ul Awal,dan ini adalah pendapat Ibnu Hazm (dalam kitab “Jawami’us Sirah” karya Ibnu Hazm, hal. 7). Dan juga dalam riwayat Malik dari Muahammad bin Jubair bin Muth’im, Ibnu Abdil Barr menukil dalam kitabya Al Isti’aab tentang penshahihan ahli Az Zaij (yakni Para Ahli Falak) baginya, juga menurut Al Hafidz Al Kabir Muhammad bin Musa Al Khawarzumiy, dan di rajihkan oleh AL Hafidz Abul Khaththab Ibnu Dahiyyah dalam kitabnya “At Tanwir fii Maulidil Basyir wan Nadzir ”.

Pendapat Ketiga mengatakan: beliau lahir pada tanggal 10 Rabi’ul Awal, dan ini adalah perkatan Asy Sya’biy dan Abu Ja’far Muhammad Al Baqir.

Pendapat keempat mengatakan: beliau lahir pada tanggal 12 Rabi’ul Awal, demikian yang dicatat oleh Ibnu Ishaq, di dalamnya ada riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Abbas dan Jabir, dan pendapat inilah yang masyhur bagi kebanyakan ulama dan muslimin.

Pendapat kelima mengatakan: beliau lahir pada tanggal 17 Rabi’ul Awal, ini adalah perkataan syi’ah.

Tetapi Az Zubair bin Bakkar menyelisihi Jumhur ulama dan muslimin, dimana Ia menyangka bahwasannya beliau –shalallahu alaihi wa sallam- lahir pada bulan Ramadhan, pendapatnya ini berdasarkan atas bahwa awal pertama kali turunnya wahyu adalah pada bulan Ramadhan tanpa ada perselisihan ulama, dan itu terjadi sekitar 40 tahun dari umur beliau, oleh karena itu dapat di prediksikan kelahiran beliau pada bulan ramadhan.

(inilah ringkasan dari beberapa pendapat yang telah disebutkan oleh Ibnu katsir dalam kitab beliau “Al Bidayah wan Nihayah” 2/242-243).

Tidak ada maksud tertentu bagi saya dalam penelitian tentang hari lahirnya Rasulullah –shalallahu’alaihi wa sallam- kecuali hanya ingin mengisyaratkan saja bahwa para ulama tidak bersepakat atas kelahiran Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib Al Qurasy Al Hasyimiyshalallahu ‘alaihi wa sallam- pada tanggal 12 Rabi’ul Awal, terlebih lagi untuk memperingatinya dalam sebuah perayaan..!!!


Akan tetapi pendapat yang mengatakan bahwa kelahiran beliau pada tanggal 8 Rabi’ul Awal adalah lebih kuat dan lebih rajih berdasarkan beberapa perkara:
  1. Bahwasannya tanggal tersebut adalah yang di nukil oleh Malik, Uqail, dan Yunus bin Yazid –mereka semua- dari Az Zuhriy dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im.. dan sungguh Al Imam Muhammad Nashiruddin Al Albaniy condong dengan pendapat ini, bersandarkan dengan tashih beliau terhadap atsar ini dalam kitab “Shahih Sirah An Nabawiyah” (Hal.13).
  2. Bahwasannya riwayat ini di kuatkan/didukung oleh perhitungan dan penelitian ahli falak, sebagaimana yang telah dinukil oleh Ibnu Abdil Barr -rahimahullah-. [lihat Al Bidayah wan Nihayah cetakan Turki (3/373)].
  3. Dan juga sesunggunya pendapat ini di rajihkan oleh sejumlah ulama dan peneliti dari kalangan ahli ilmu, seperti Ibnu Hazm, Al Hafidz Al Kabir Muhammad bin Musa Al Khawarzumiy dan Al Hafidz Ibnu Dahiyyah.



Wallahu a’lam..
Yang senantiasa mengharapkan ampunan Allah
Abujarir Al Andunisiy.







    


Minggu, 27 Januari 2013


MUTIARA DI ATAS DAUN 



Suci dan mensucikan..
Dari arah langit dia turun..
Seringnya di pagi hari..
Bersama dengan Rahmat Tuhan..
Saat Ia menebar keberkahan.


Indahnya.. menjadi hiasan pemandangan
Indahnya.. selalu diabadikan oleh manusia yang tertawan
Menyegarkan.. pandangan
menyehatkan.. taman dan tanaman..


Saat panas datang.. dia pergi tak terlihat..
Dia tidak pernah bisa bersatu dengan panas
Perginya tidak meninggalkan bekas
Datangnya tak tertanda meretas


Embun..
Rahmat Allah di Bumi
Berkah Allah pada Alam
Mutiara Allah di atas daun.


Abujarir



Minggu, 01 Januari 2012


 -AMALAN RINGAN PEMIKAT HATI-


Menebar Salam.. 
Salam artinya meminta perlindungan dan penjagaan kepada Allah. Maksud salam disini adalah semoga Allah senantiasa mejaga dan menjamin keselamatanmu. Assalam yang berarti keselamatan, kebebasan dan keamanan dari penghianatan, pengingkaran janji dan penipuan.

Dalam Shahih Muslim (54) disebutkan: Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk (untuk menumbuhkan) kecintaan adalah menebar salam antar sesama muslim.”

Menebar salam hukumnya sunnah muakaddah dan merupakan salah satu diantara hak-hak seorang muslim atas saudaranya sesama muslim.

Senyum.. 
Jika anda ingin orang lain menyukai anda tanpa harus memberikan sesuatu, maka hiasilah selalu wajah anda dengan sinar keceriaan, dan sambutlah mereka selalu dengan senyuman, karena senyum merupakan kunci ajaib untuk meluluhkan hati manusia. Senyum itu adalah melebarkan bibir dengan keadaan mulut sedikit terbuka tanpa mengeluarkan suara. 

Rasulullah -shalallahu'alaihi wa sallam- bersabda : 

”senyummu dihadapan saudaramu termasuk sedekah bagimu”.


Senyuman yang tulus dari seseorang meberikan refleksi kejiwaan positif kepada orang lain. Seorang muslim selalu diajarkan agar memiliki sifat lapang dada dan senantiasa terbuka menebarkan senyuman kepada orang lain. seorang muslim yang tersenyum saja maka ia telah menebarkan kegembiraan dan kasih sayang melalui senyumannya. 


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh HR. Muslim, Rasulullah berpesan,

Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu,  walaupun itu hanya bermuka cerah pada orang lain,”.

Akan tetapi banyak senyum tidak identik dengan banyak tertawa, karena banyak tertawa itu tidak terpuji sebab dapat menjatuhkan wibawa dan menghilangkan ketenangan bahkan mematikan hati.

Ahmad Amin  dalam bukunya Faidh Al-khatir mengatakan : 

”orang yang selalu tersenyum itu tidak hanya menjadi orang yang paling bahagia dalam hidupnya, bahkan mereka juga yang paling banyak menyelesaikan pekerjaannya”.

Apa gunanya harta jika hidup penuh kemurungan???!!! Apa gunanya kedudukan tinggi jika jiwa selalu tertekan??!!!

Memanggil Nama Yang Paling Disukai..
Diantara hal yang menjadikan seseorang itu disukai oleh orang lain dan dekat dengan hati mereka adalah memanggil orang lain dengan nama yang paling disukai, tidak ada sesuatupun yang lebih dicintai seseorang daripada dirinya sendiri. Perhatian anda terhadap namanya adalah bentuk penghargaan anda pada dirinya

Memanggil dengan panggilan yang paling disukai bisa mendekatkan kita pada hati seseorang serta menumbuhkan rasa cinta kasih dengannya. Sesungguhnya yang memberi julukan yang mengandung kejelekan bisa membuat seorang mukmin menjadi fasik. 

Allah berfirman:

"Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang tak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Qs. al-Hujurat : 11).

Berjabat Tangan..
Berjabat tangan merupakan salah satu cara terbaik dalam memikat hati orang lain dan merupakan perkara sunnah. Ia juga termasuk amal baik yang bisa menghapuskan dosa dan kesalahan.

Dari al-Bara’ bin ‘Azib -radhiyallahu ‘anhu-, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 


“Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.“[Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud (no. 5212), dengan berbagai jalur dan pendukungnya lihat dalam kitab Silasilatul Ahaaditsish Shahiihah (no. 525).]


Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan berjabat tangan ketika bertemu, dan ini merupakan perkara yang dianjurkan berdasarkan kesepakatan para ulama, bahkan ini merupakan sunnah yang muakkad (sangat ditekankan).


Termasuk adab yang baik dalam berjabat tangan adalah tidak melepaskan tangan saat orang lain menjabat tangan, hingga orang lain tersebut melepaskannya terlebih dahulu.

Akan tetapi tidak boleh berjabat tangan antara lawan jenis (laki-laki dan perempuan), karena ini hukumnya haram..

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita (yang bukan mahram), ucapanku untuk seratus wanita itu sebagaimana ucapanku untuk satu wanita.” [HR. Ahmad 6/357 & disahihkan Syaikh Al Albani dalam As Shahihah, (2/64)].

Dalam riwayat yang lain, dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash mengatakan: 

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita ketika baiat.” (HR. Ahmad 2/213 & dishahihkan Syaikh Al Albani dalam As Shahihah 530)

Ma’qil bin Yasar mengatakan: 

Kalian bersengaja membawa jarum kemudian menusukkannya ke kepalaku, itu lebih aku sukai dari pada kepalaku dimandikan oleh wanita yang bukan mahram. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 3/15/17310)

dalam riwayat yang lain Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada dia menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya.” (HR. At Tabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir, 20/212/487 & Ar Ruyani dalam Al Musnad, 2/323/1283)
dalam hadits ini Ma'qil bin Yasar memarfu'kan perkataannya kepada Rasulullah -shalallahu'alaihi wa sallam-.

aka tetapi yang rajih hadits ini adalah "Mauquf" (hanya perkataan Ma'qil saja). 

Berpenampilan Sopan..
Berpenampilan yang baik dan menarik serta harum adalah salah satu sebab terpikatnya hati orang lain kepada anda. Sebagaimana kata pepatah: penampilan adalah gambaran hati seseorang. Oleh karena itu hendaklah memperhatikan penampilan. Karena sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.

Akan tetapi hindarilah berlebih-lebihan, karena berlebih-lebihan justru akan membuat yang jernih jadi keruh dan yang manis menjadi pahit. 

Umar bin Khattab -radliallahu 'anhu- pernah berkata: ”kalian tidak boleh mengenakan 2 macam pakaian: pakaian yang mewah dan pakaian yang hina(membuat orang lain tidak nyaman)”.

Saling Menghormati Dan Saling Memberi Hadiah..
Rasulullah SAW telah menganjurkan umatnya untuk saling memberikan hadiah, sebaigamana sabdanya : 

"Hendaklah kalian saling memberikan hadiah, niscaya hal itu akan menumbuhkan kasih sayang diantara kalian”.  (HR. al-Bukhari dalam adabul mufrad (612), diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi, Abu Ya’la)



Beliau juga memerintahkan kita agar menerima hadiah yang diberikan kepada kita dan tidak menolaknya.

Al-Hafizh Ibn Hajar berkata, mengikuti al-Hakim, 

“Jika dengan tasydîd maka itu berasal dari "al-mahabbah" dan jika tidak dengan tasydîd maka itu berasal dari "al-muhâbâh". Hal itu karena hadiah termasuk bagian dari akhlak Islam yang ditunjukkan oleh para nabi dan didorong oleh para pengganti mereka di antara para wali; (bisa) melembutkan hati dan melenyapkan kemarahan di dalam dada.”

Begitu juga orang yang ingin dihargai dan meminta orang lain untuk menghargai dirinya, sementara dia tidak menghargai orang lain sebagaimana mestinya, maka orang tersebut bagaikan orang yang mencari butiran emas di tumpikan pasir, atau seperti orang yang mencari potongan bara di kubangan air. Diantara bentuk penghargaan terhadap orang lain adalah yang muda menghargai yang tua atau yang lebih utama darinya.

Tawadlu (rendah hati)..
Pengertian Tawadhu’ adalah rendah hati,  tidak sombong. Pengertian yang lebih dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya.  Orang yang tawadhu’  adalah orang  menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT. 


Tawadhu‘ juga bermakna ketundukan kepada kebenaran,  menerima nasihat dan koreksi dari siapa pun datangnya, baik dalam keadaan suka maupun murka dan duka.


Salah satu sifat mukmin atau muslim sejati adalah tawadhu’, yakni rendah hati, tidak merasa lebih dari yang lain. Lawannya adalah sifat sombong (takabur). Rasulullah Saw menegaskan:


“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’ sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (HR. Muslim).


Rasulullah bersabda:

"Tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya,”  [HR. Muslim].

Pada hakikatnya tawadhu’ adalah memberikan seluruh penghormatan, serta menghargai siapa saja yang berhak dan pantas menerimanya. 

Ulama generasi tabi’in, Fudhail bin Iyadh, ketika ditanya tentang tawadhu’ ia menjawab: 


“(Tawadhu’ adalah) ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerima dari siapa pun yang mengucapkannya” (Madarijus Salikin).


Menurut Ibnul Qayyim


“Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran, walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya, maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah karena Allah adalah Al-Haq, ucapannya haq, agamanya haq. Al-Haq datangnya dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran, berarti dia menolak segala yang datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”


Sikap tawadhu’ itu mempunyai batasan. Jika melebihi batasan tersebut maka ia akan menjadi hina dan rendah. Dan orang yang meremehkannya akan mengarah kepada kesombongan.

Menjaga Lisan..
Jika anda menginginkan hati orang lain terpikat pada diri anda, jagalah lisan anda. Batasilah ucapan andapada hal-hal baik saja. Menjaga lisan tidak hanya bisa membuat orang jatuh hati pada anda, bahkan anda juga dijamin Rasulullah masuk surga. Yaitu bagi siapa saja yang bisa menjaga lisan dan kemaluannya.

Orang islam yang paling utama yaitu dengan cara menjaga lisan dari tergesa-gesa berbicara dan memikirkan segala resiko sebelum mengucapkan sebuah kata. Jika ada kebaikan pada ucapan maka silahkan berbicara tapi jika tidak ada lebih baik anda diam.

Berbicara Yang Baik..
Banyak bicara bisa menghilangkan wibawa, banyak mengukir kesalahan dan mempersulit hisab saat di akhirat. Barang siapa yang banyak berbiacara, maka orang lain akan enggan berbicara dengannya, ingin segera menghindarinya. 

Al Qasimi berkata : 

”perkataan seseorang itu menunjukan keutmaan dan kelebihannya, ia adalah cerminan dari akalnya. Maka jagalah agar tetap dalam ha-hal yang baik, dan cukup dengan yang sedikit saja”.

4 hal syarat-syarat dalam betutur kata:
  1. Perkataan tersebut dalam rangka dakwah.
  2. Berbicara pada tempatnya, serta sesuai waktu dan kondisi.
  3. Berbicara seperlunya.
  4. Memilih kata-kata yang baik dan pantas untuk diucapkan.


Menjadi Pendengar Yang baik..
Mendengar dan memperhatikan pembicaraan yang baik, yaitu dengan memfokuskan kedua telinga, kedua mata, menghadirkan hati, serta menatap matanya. Karena tatapan muka anda terhadap orang yang sedang berbicara, menunjukan simpati terhadapnya, menunjukan penghargaan dan penghormatan terhadap pribadinya serta menunjukan bahwa anda senang dengan apa yang dia bicarakan.

Cara-cara menjadi pendengar yang baik adalah:

  1. Memperhatikan orang yang sedang berbicara hingga selesai berbicara dan tidak banyak menyela.
  2. Menghadapkan wajah dan pandangan kepadanya.
  3. Serta menghadirkan pikiran untuk mendengarkan apa yang dia ucapkan.


Kurangnya perhatian seseorang terhadap orang yang sedang berbicara merupakan akhlak yang tidak baik dan kurang sopan. Bahkan hal tersebut merupakan pemicu timbulnya sifat dengki dan permusuhan.

Tenang Dan Wibawa..
Sikap tenang dan wibawa akan menjadikan seseorang disegani dan disenangi. Orang yang bersikap tenang dan wibawa akan mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan orang lain, yaitu kemuliaan, kehormatan dan kepemimpinan.

Yang dimaksud sikap wibawa disini adalah tidak tergese-gesa dan perlahan tapi pasti dalam menggapai sesuatu yang dia cari. 

Al Qurthubi berkata:” malu itu bisa mendorong pemiliknya pada sikap wibawa, baik wibawa dalam arti menghormati orang lain atau wibawa dalam dirinya sendiri.
Ada beberapa hal yang dapat membantu anda meraih sikap tenang dan wibawa setelah takwa:
  1. Ilmu dan amal
  2. Diam


Tidak Berlebihan..
Bercanda itu adalah sunnah yang disyariatkan akan tetapi bercanda dilarang apabila melampaui batas atau terus menerus, karena hal itu melalaikan kita dari dzikir kepada Allah dan menyibukkan kita, sehingga tidak sempat untuk memikirkan permasalahan-permasalahan yang penting untuk dikaji dalam urusan agama, serta bisa menjadikan hati menjadi keras, tidak jarang juga menyakiti hati orang lain, menimbulkan kedengkian dan jatuhnya kehormatan dan wibawa.

Tidak Mudah Marah..
Orang yang dapat menguasai dirinya ketika amarah memuncak akan memperoleh kedudukan yang tinggi dihati manusia, mendapat simpati manusia, serta merasa bahagia dan senang bila sedang bersama mereka.

Sedang orang yang gampang marah, maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan, sanjungan, serta simpati manusia. Bahkan sebagian orang tidak akan mau memandangnya.
Obat marah itu ada dua macam:

1.      Lahir
  • Membaca ta’awudz
  • Mengubah posisi badan saat marah
  • Memilih diam saat marah


2.      Batin
  • Mengingat pujian Allah
  • Ingatlah bahwa setan adalah mendorong meluapnya amarah
  • Bersungguh-sungguh dalam memerangi hawa nafsu


Berlaku Adil..
Berlaku adil bisa mengobati semua penyakit hati dan sanggup memberikan ketenangan dalam jiwa, meski hari ini ada yang tidak rela, besok pasti akan menerima dengan lapang dada. Setiap orang diharuskan bersikap adil karena sikap ragu itu bisa menghilangkan kebenaran, ia merupakan bentuk kekalahan, lemahnya kepribadian, rusaknya akal, serta ketidakcakapan.

Menjauhi Pedebatan..
Perdebatan adalah aib yang mematikan, yang mengisi dada dengan kedengkian, memenuhi hati dengan kebencian kepada orang lain, sulit dalam menolak kebenaran, merugikan hak-hak orang lain.

Debat terbagi menjadi 2 macam:
  • Debat yang terpuji yaitu yang bersifat memberikan bimbingan dan pelirusan pada orang yang diharapkan kembali dari kebatilan menuju kebenaran.
  • Debat yang tercela yaitu yang tidak bertujuan untuk mengajak kepada kebenaran, atau supaya berpegang pada kebenaran,  tapi hanya didasarkan pada permusuhan dan rasa dendam.


Ramah Dan Lembut..
Sikap ramah dan lembut merupakan salah satu cara terbaik dalam memikat hati manusia yang beragam, meredam permusuhan dan mengubahnya menjadi persahabatan dan rassa cinta.

Diantara bentuk sikap ramah yang lain adalah tidak langsung menyalahkan dan mendustakan orang yang memberi tahu anda tentang suatu hal yang tidak anda ketahui.

Segera Sadar..
Segera sadar disini maksudnya adalah segera kembali pada jalan yang benar dan lurus( ketika melakukan suatu kekeliruan atau penyimpangan). Hal itu menuhjukkan lapangnya dada dan pekanya perasaan. Orang yang segera sadar dari kesalahan dan berlomba-lomba dalam memperbaiki diri akan dicintai orang lain.

Menutupi Aib Orang Lain..
Orang yang paling berhak untuk kita tutupi aibnya adalah diri kita sendiri, maka orang tersebut akan selamat dari gunjingan orang lain serta murka dari Allah, karena Allah akan menutupi aib orang yang bisa menutupi aibnya sendiri.

Berbuat Baik..
Orang yang senantiassa berbuat baik itu akan selalu dijaga oleh Allah dari pertarungan jahat didunia.

Pelaku kebaikan merupakan manusia yang paling baik.        

Berterima Kasih..
Hati manusia diciptakan untuk menyukai ucapan terimakasih dan pujian. Dan tidak ada seorangpun yang tidak membutuhkan pujian, seseorang yang tidak akan pernah bisa bersyukur pada Allah selama dia tidak bisa berterimakasih terhadap manusia.
Doa, pujian ataupun sanjungan merupakan bentuk terimakasih pada orang lain.

Menghargai Kebaikan..
Jika anda telah berbuat baik kepada seseorang, maka berusahalah untuk ssegera melupakannya, sehingga anda bisa selamat dari sikap mengungkit-ungkit kebaikan, menuntut balas dan sombong terhadap manusia.

Karena sikap mengungkit-ungkit bisa menghancurkan kebaikan dan mengotorinya.
Janganlah anda mengharap balasan dari kebaikan yang anda lakukan, kecuali hanya kepada Allah.

Karena tidak ada balasan yang pantas atas suatu kebaikan selain kebaikan pula.

Kamis, 15 September 2011


Ada Tambahan Dua Menara Di Gerbang Raksasa Masjidil Haram

MAKKAH--Wajah Masjidil Haram dipermak habis-habisan. Sebuah proyek ekspansi raksasa tengah berlangsung di sana. Pembangunan sebuah gerbang bernama King Abdullah Gate dan dua menara terus berlangsung.

Rencananya, awal Ramadhan 1 Agustus mendatang salah satu menara dan gerbangnya sudah bisa digunakan menyambut jamaah. Dengan demikian, ada 11 menara yang bisa digunakan di Masjidil Haram.

Hingga kini tercatat sudah 25 persen proyek terlaksana. Ekspansi ini, menurut Komite Pembangunan Dua Masjid Suci akan mengubah wajah Masjidil Haram. Sebelumnya, proyek ekspansi ini sudah direncanakan sejak 2008.

Dengan sejumlah perubahan, diperkirakan Masjidil Haram sanggup menampung tambahan jamaah sebanyak 500 ribu orang. Sisi utara dan barat laut masjid diperluas sehingga ruang shalat bagi Jamaah makin lapang.

Ekspansi Masjidil Haram ini diperkirakan mencapai 370 ribu meter persegi. Sebuah gunung Jabal al Kaaba dipangkas. Ini membuat kapasitas Masjidil Haram sanggup menampung 1,2 juta jamaah pada sekali waktu shalat.

Sumber mengatakan, proyek ekspansi ini akan menjadi bangunan baru di Kompleks Masjidil Haram. Bangunan ini dihubungkan oleh dua gerbang raksasa dengan kompleks utama Masjidil Haram.


Jamaah dari bangunan baru yang ingin ke Kabah harus melewati lapangan di sisi barat laut masjid.

Dr Mohammad Bin Nasser Al Khozaim, deputy head of the General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques, mengatakan selain bangunan, juga akan disediakan fasilitas umum. Ini meliputi tempat air zam zam, tempat sampah, pos keamanan, eskalator, jembatan. (rpblk)

Selasa, 05 April 2011

القواعد و الأصول لمنهج خير السلف أصحاب الرسول صلى الله عليه و سلم

إِنَّ الحَمْدَ للهِ ، نَحْمَدُهُ ، وَنَسْتَعِيْنُهُ ،وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا ، مَن يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ ،وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ}[آلعمران:102].

{يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَ خَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا}[النساء:1].

{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ  اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}. [الأحزاب:70-71].

أَمَّا بَعْدُ : 

فَإِنَّ خَيْرَ الكَلامِ كَلامُ اللهِ ، وَخَيْرَ الهَدْيِ ؛ هَدْيُ مُحَمَّدٍ –صلى الله عليه و سلم- ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكَلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ.

فإن الله تعالى ذكر في كتابه الكريم، ورسوله صلى الله عليه وسلم في سنته الأسسَ التي يجب أن يسير عليها المؤمنون ، والتي توصلهم إلى جنات النعيم ، إنها الأصول التي ينبني عليها منهج السلف الصالح. وسأذكر جملة من تلك الأصول والأسس مستعيناً بالله، مراعياً السهولة و الاختصار:

مقدمة منهجية:

المراد بمنهج السلف: الطريق الواضح الذي كان عليه الرسول صلى الله عليه وسلم وصحابته، ومن تبعهم من أهل القرون الفاضلة من التابعين وأتباعهم.

قال النبي صلى الله عليه وسلم: ((خير الناس قرني، ثم الذي يلونهم، ثم الذين يلونهم)) [متفق عليه].

والأصول والقواعد السلفية هي: الأسس الكلية المنطبقة على جزئيات كثيرة مما اشتمل عليه منهج السلف. 
وهناك قواعد كلية عامة، وقواعد كلية خاصة بمبحث من مباحث العقيدة، وسأذكر فيهذه المقالات القواعد الكلية العامة لمنهج السلف الصالح.


الأصل الأول:
العلم قبل القول والعمل

فالعلم هو الطريق الذي يعرف به الأمر على حقيقته ، ويعرف به الحق من الباطل. قال تعالى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَاإِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ}. [محمد:19]. وقد بوب الإمام البخاري في صحيحه (1/192) ، فقال: «باب العلم قبل القول والعمل» ثم ذكر الآية السابقة. 

وقال تعالى: {قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ}. [يوسف:108]. والبصيرة هي " الحق ", كما قاله القرطبي في تفسيره (9/274)، والحق لا يدرك إلا بالعلم. فطريقة الرسول -صلى الله عليه وسلم- هي الحق ، ولا تدرك إلا بالعلم . 

وقال تعالى: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْوَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [الأنعام:153]. فأعلمنا الله سبيلَهُ وطريقَهُ ، ثم أمرناباتِّباعه. 

وقد جاءت الآيات و الأحاديث في فضلِ العلم، والحث على تعلُّمِهِ كثيرةٌ و وفيرةٌ. وما ضلَّ مَنْ ضلّ إلا لفقده حقيقة العلم أو كله أو تفاصيله. فاليهود علموا أمر الله ونهيه، ولم يمتثلوا لأنهم فقدواحقيقة العلم، فلم يَقَرَّ العلم الحقيقي في قلوبهم فلم ينتفعوابالعلم. والنصارى ضلوا لفقدهم كثيراً من العلم فَبَعُدُوا عن اللهِ حيث عبدوا اللهَ على جهلٍ و ضلال. 

لذلك قال سفيان بنعيينة: « مَنْ ضَلَّ من علمائنا ففيه شبهٌ من اليهود، ومن ضل من عُبَّادنا ففيه شبه من النصارى ».


الأصل الثاني:
العلم النافع هو العلم بكتاب الله، وسنة رسوله صلى الله عليهوسلم. 

إذ الكتاب والسنة هما أصلا الدين وأساسه، وهما  كافيان وافيان إلى قيام الساعة. قال تعالى: {وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَ بُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ}. [النحل:89]. 

قال الإمام ابن جرير الطبري رحمه الله في تفسيره (15/108) : «يقول: نزل عليك يا محمد هذا القرآن بيانا لكلّ ما بالناس إليه الحاجة، من معرفة الحلال والحرام والثواب والعقاب، {وَهُدًى} من الضلال، {وَرَحْمَةً} لمن صدّق به، وعمل بما فيه من حدود الله وأمره و نهيه، فأحل حلاله، وحرّم حرامه، { وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ } يقول: وبشارة لمن أطاع الله وخضع له بالتوحيد، وأذعن له بالطاعة، يبشره بجزيل ثوابه في الآخرة، وعظيم كرامته». 

وقال -صلى الله عليه وسلم- : ((وأيم اللَّهِ، لقد تَرَكْتُكُمْ على مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا وَ نَهَارُهَا سَوَاءٌ)). [رواه ابن ماجه (1/4) وحسنه الشيخ الألباني في صحيح ابن ماجه (1/6)]

فالرسول صلى الله عليه وسلم بيَّن لأمته ما يحتاجون إليه من أمر دينهم، بل بيَّن لهم أيضاً الهَدْيَ الصالح في كل الأمور، حتى قال أحد اليهود لسلمان الفارسي رضي الله عنه : «قد عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ - صلى الله عليه وسلم- كُلَّ شَيْءٍ حتى الْخِرَاءَةَ، فقال: «أَجَلْ، لقد نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أو بَوْلٍ، أو أَنْنَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ، أو أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ من ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، أو أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أو بِعَظْمٍ » [رواه مسلم في صحيحه (1/223 رقم57)]. 

قال -رحمه الله –كما في مجموع الفتاوى (17/443)- : « فكل ما يحتاج الناس إليه في دينهم فقد بيَّنه الله ورسولهبياناً شافياً ».


الأصل الثالث:
السنة وحي كالقرآن. 

قال تعالى: {وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلَّاوَحْيٌ يُوحَى}. [النجم:3-4].  وقال تعالى: {وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِمَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ}. [النحل:44]. 

وقال صلى الله عليه وسلم : (( ألا إني أوتيت القرآن ومثله معه )). [رواه أحمد (4/134) ، وأبو داود (4/200). وغيرهما. وصححه الشيخ الألباني في صحيح الجامع (رقم/2643) ] . 

وقال صلى الله عليه وسلم : ((لا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا على أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ الْأَمْرُ من أَمْرِي مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أو نَهَيْتُ عنه، فيقول: لا نَدْرِي، ما وَجَدْنَا في كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ )). [رواه أبوداود (4/200)، والترمذي (4/144)، وابن ماجه (1/706)، وغيرهم، وصححه الشيخ الألباني في صحيح الترمذي (2/339)]. 

قال قوام السنة الأصبهاني رحمه الله في كتاب " الحجة في بيان المحجة " (2/306) : « ومن قبل عن النبي صلى الله عليه وسلم فإنما يقبل عن الله، ومن رد عليه فإنما يرده على الله، قال الله تبارك وتعالى: { مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْأَطَاعَ اللَّهَ}. [النساء:80]، وقال: { إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ}. [الفتح:10] . 

قال الشافعي رحمه الله : وتقام سنة رسول الله مع كتاب الله عز وجل مقام البيان عن الله عز وجل، وليس شيء من سنن رسول الله يخالف كتاب الله في حالٍ، لأن الله عز وجل قد أعلم خلقه أن رسول الله يهدي إلى صراط مستقيم » . 

وقال ابن حزم رحمه الله في كتاب " الإحكام ", (1/96) : « إن القرآن والحديث الصحيح متفقان ، هما شيء واحد، لا تعارض بينهما ولا اختلاف، يوفق الله تعالى لفهم ذلك مَنْ شاء من عباده، ويَحْرِمُهُ مَنْ شاء، لا إله إلا هو » . 

وقال ابن القيم رحمه الله : « ونحن نقول قولاً كُلِّيًّا، نشهد الله عليه وملائكته : إنه ليس في حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم ما يخالف القرآن، ولا ما يخالف العقل الصريح، بل كلامه بيان للقرآن، وتفسير له، وتفصيل لماأجمله » [مختصر الصواعق المرسلة (2/441)].


الأصل الرابع:
الكتاب والسنة محفوظان إلى يوم القيامة. 

إن الله سبحانه وتعالى جعلَ محمداً -صلى الله عليه وسلم- خاتمَ النبيين، ورسالته خاتمة الرسالات، وجعل دين الإسلام ناسخاً لجميع الأديان، لذا تكفَّل اللهُ بحفظ ما ببقائه بقاء الإسلام ألا وهو كتاب الله وسنة رسوله صلىالله عليه وسلم. قال تعالى: {إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}.[الحجر:9]. 

قال الشيخ عبدالرحمن بن ناصر السعدي رحمه الله فيتفسيره (4/158): « { إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ } أي: القرآن الذي فيه ذكرى لكل شيء من المسائل والدلائل الواضحة، وفيه يتذكر من أراد التذكر، {وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} أي في حال إنزاله، وبعد إنزاله، ففي حال إنزاله حافظون له من استراق كل شيطان رجيم ، وبعد إنزاله أودعه الله في قلب رسوله، واستودعه في قلوب أمته، وحفظ الله ألفاظه من التغيير فيها والزيادة والنقص، ومعانيه من التبديل، فلا يحرف محرف معنى من معانيه إلا وقيض الله له من يبين الحق المبين، وهذا من أعظم آيات الله ونعمه على عباده المؤمنين. ومن حفظه: أن الله يحفظ أهله من أعدائهم، ولا يسلط عدواً يجتاحهم». 

ومن حفظ الله للقرآن: حفظ سنة نبيه محمد صلى الله عليهوسلم؛ إذ هي الشارحة للقرآن، الموضِّحة لمشكلِهِ، المُبَيِّنَةُ لِمُجْمَلِهِ،المخصصة لعمومه. قال صلىالله عليه وسلم: (( ألا إني أوتيت القرآن ومثله معه)). [سبقتخريجه].


الأصل الخامس:
وجوب الرجوع إلى الكتاب والسنة في جميع الأحوال، وخاصة عند التنازع .

قال تعالى: {الم * ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ }. [البقرة:1-2]. فكتاب الله هو المرشد والدليل على الحق و إليه. 

وقال تعالى: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ }. [الأنعام:153]. 

وقال تعالى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّه وَ أَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ}. فأمر الله بطاعته، وطاعة رسوله صلى الله عليه وسلم، واتباع أمره سبحانه، واتباع أمر رسوله صلى الله عليه وسلم، واجتناب نهيه جل وعلا، واجتناب نهيه صلى الله عليه وسلم، كما أمر بطاعة ولاة الأمر المسلمين، ثم قال تعالى: {فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيشَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا}. [النساء:59]. فأمر الله عند التنازع بالرد إليه أي إلى كتابه، وبالرد إلى رسوله وذلك في حياته صلى الله عليه وسلم، ويكون الرد إلى سنته بعد وفاته صلىالله عليه وسلم. 

وقال -صلى الله عليه وسلم- : ((إِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي )). [رَوَاهُ الحاكم فِي المستدرك عَلَى الصحيحين (1/171)، والبيهقي فِي السنن الكبرى (10/114)، والآجري فِي الشريعة (رقم1657) عن عبدالله بن عباسٍ، وصححه الشيخ الألباني في صحيح الجامع (رقم2937)]

وقال صلى الله عليه وسلم: ((فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّواعَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُور فَإِنَّ كُلَّمُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ)). [ رَوَاهُ الإمَامُ أَحْمَدُ فِي المُسْنَدِ (4/126)، وأبو داود (4/200رقم4607)، والترمذي (5/44رقم2676)، وابن مَاجَهْ فِي سننه (1/16رقم43)، وَأَبُو نَعِيْم فِي المستخرج عَلَى صَحِيْح مُسْلِمٍ (1/36-37)، وَالحَاكِم فِي المُسْتَدْرَك عَلَى الصَحِيْحين (1/175) وَغَيْرُهُمْ من حَدِيْثِ العِرْبَاضِ بنِ ساريةِ رضي الله عنه وصححه الترمذي، والشيخ الألباني في صحيح الترمذي (رقم2676)]. 

فيتضح مما سقته من الأدلة الأمر الأكيد من الله، ومن رسوله -صلى الله عليه وسلم- بالرجوع إلى أمر الله، وأمر رسوله -صلى الله عليه وسلم- ، والتمسك بأمر الله وأمر رسوله وخاصة عند التنازع. فإن في الكتاب والسنة الشفاء والهدى والنور. وإذا أعرض العبد فإن الله قد توعده فقال: {فَلَا وَرَبِّكَلَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمً }. [النساء:65]. ولا بد من الرجوع في فهم الكتاب والسنة إلى فهم السلف الصالح رحمهم الله، وهذا ما سأبينه في المجموعة الثانية إن شاء الله تعالى. والله أعلم .

وصلى الله وسلم على نبينا محمد

كتبه: أبو عمر أسامة بن عطايا العتيبي
المدينة 22 / 10 / 1429هـ  حسب تقويم أم القرى

انظر: